Silsilah Nasehat Ustadzuna Luqman bin Muhammad Ba’abduh

Silsilah Nasehat Ustadzuna Luqman bin Muhammad Ba’abduh

(1)

“Antum kalau menyibukkan diri pada suatu waktu setelah menyelesaikan beberapa ilmu alat, usahakan punya kitab Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah. Antum baca fatwa demi fatwa dan perhatikan bagaimana mereka beristinbath, terlepas nanti suatu waktu antum melihat ada fatwa lain yang lebih tepat, itu ijtihadat. Tetapi yang terpenting adalah perhatikan bagaimana para ulama’ mengambil istinbath hukum. Dengan begitu, Antum akan terlatih menghadapi berbagai masalah.

Jangan tampil sekarang ! Supaya tidak sok jadi mufti. Sekarang antum belajar aqidah, manhaj, hifzh, muroja’ah, durus, akhlaq, adab, ta’awun, tawadhu’. Ishbiru la tasta’jilu; Manista’jalal amra qobla awanihi ‘uqiba bi hirmanihi”

Silsilah Nasehat Ustadzuna Luqman bin Muhammad Ba’abduh

(2)

“Di antara pokok penting dan prinsip dasar manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah MENGENAL ulama’, terkhusus ‘ulama yang hidup di masanya. Sekaligus MENGHORMATI dan MENGHARGAI mereka, terutama ULAMA KIBAR baik yang hidup pada masa lalu maupun pada masa sekarang.

Prinsip dasar ini telah diletakkan oleh para ulama’ dalam buku-buku manhaj mereka baik yang terdahulu maupun yang sekarang.
Karena memang permasalahan ini sangat PENTING dan memiliki peran dan andil yang besar dalam keselamatan iman dan aqidah seseorang.

Bahkan permasalahan ini dijadikan oleh para ulama’ sebagai tolok ukur manhaj seorang muslim.

Silsilah Nasehat Ustadzuna Luqman bin Muhammad Ba’abduh

(3)

Semangat Mengamalkan Sunnah

… Sebelumnya ana ingin mengingatkan diri ana pribadi dan saudaraku semuanya, agar kita benar-benar BERSEMANGAT mengamalkan amalan-amalan yang warid di dalam sunnah. Baik amalan tersebut terkait dengan permasalahan shalat, puasa, atau yang lainnya. Karena di antara sebab ghorobatus sunnah (sunnah menjadi asing) di tengah kaum muslimin adalah tidak adanya upaya untuk mengamalkan sunnah tersebut. Terkhusus bagi para penuntut ilmu. Apabila thullabul ilmi telah meninggalkan sunnah, maka lebih-lebih lagi selain mereka dari kaum muslimin.

Ana melihat ada beberapa perkara yang ikhwah tidak bersungguh-sungguh di dalam mengamalkannya. Bahkan dalam permasalahan yang sangat jelas sekalipun.

Seperti contohnya pada hari tasyriq, sebagian ikhwah dalam jumlah yang tidak sedikit, mereka tidak bertakbir setelah shalat-shalat fardhu.

Demikian juga, termasuk perkara yang disyari’atkan adalah at-ta’min (mengucapkan amin) setelah bacaan imam “Waladh Dhollin”. Kami dapati masih banyak dari ikhwan yang tidak mengucapkan “amin”.

Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menyatakan,

“من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه”

Barangsiapa yang ucapan amin-nya sesuai dengan ucapan amin para malaikat, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

dari catatan Abu Rufaidah al-Maidani

Majmu’ah Manhajul Anbiya