BARAKAH MAJELIS ‘ULAMA

Oleh / Rb2 26 1430 / Nasehat

Tidak hanya pihak yang berseberangan yang menjadi sasaran bidik celaan dan cercaan, pihak yang tidak mau membela siapa-siapa alias tawaqquf pun menjadi sasaran bidik celaan dan cercaan oleh Al-Hajuri dan para pengikutnya.

Salah seorang pentolan pengikut Al-Hajuri yang berada di ma’had Dammaj, bernama Muhammad Al-‘Amudi, menulis malzamah berjudul Al-Waqifah Hizbiyyah Mughallafah la lilhaq nasharu wa la lilbathili kassaru (Orang yang bertawaqquf adalah hizbiyyah terselubung, tidak mau membela al-haq dan tidak menghancurkan kebatilan).

Dalam malzamah tersebut Al-‘Amudi mencela orang-orang yang bertawaqquf dalam fitnah, yaitu tidak mau berpihak kepada siapa-siapa dalam fitnah di Yaman. Celaan terhadap orang-orang yang bersikap tawaqquf ini sebenarnya telah diucapkan sebelumnya oleh Al-Hajuri sendiri. Dan malzamah tersebut juga telah dibaca dan diizinkan disebarkan oleh Al-Hajuri, yang berarti Al-Hajuri setuju penuh dengan isinya. [1]

Dalam malzamah tersebut, Al-‘Amudi mencela dua ‘ulama kibar Ahlus Sunnah masa ini, yaitu Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi dan Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri -hafizhahumallah min kulli su’in wa makruh- bahwa kedua syaikh tersebut adalah a’da’us sunnah (musuh-musuh) sunnah.

Al-‘Amudi berkata dalam Al-Waqifah :

بل إننا نجدهم يميلون أشدّ الميل إلى أعداء السنة، أمثال الحية الرقطاء وغلاميه -الوصابي والجابري-

“Bahkan kita mendapati mereka (yakni orang-orang yang bertawaqquf) sangat condong kepada para musuh sunnah, seperti si ular belang (yakni Asy-Syaikh Abdurrahman) dan dua orang budaknya – Al-Wushabi dan Al-Jabiri – … .” [2]

Perhatikan, pengikut dan murid besar Al-Hajuri ini, mencela dua ‘ulama kibar, Asy-Syaikh Al-Wushabi dan Asy-Syaikh Al-Jabiri sebagai musuh-musuh sunnah!! Tentu saja, celaan tersebut ia tiru dari gurunya, Al-Hajuri.

© © ©

Ada satu peristiwa menarik untuk disebutkan di sini, yang di dalamnya terdapat pelajaran penting buat kita semua.

Bahwa ada dua orang, Muhammad Ba Jammal dan Abu Ishaq Asy-Syibami [3], berani lancang menyebutkan kritikan terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi -yang mereka istilahkan sebagai kesalahan– dan pada saat bersamaan mereka berdua menyarankan salafiyin untuk membaca malzamah Al-Waqifah tulisan Al-‘Amudi yang telah direkomendasi oleh Al-Hajuri di atas.

Maka akibat perbuatannya tersebut, mereka berdua yang ta’ashshub Al-Hajuri harus berhadapan dengan dua gunung besar, yaitu An-Naqid Al-Bashir Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Bura’i dan Asy-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Utsman Adz-Dzamari hafizhahumallah.

Salah seorang hadirin berkata kepada Asy-Syaikh Al-Bura’i : “Wahai Syaikh, Abu Ishaq menganjurkan para pemuda untuk membaca malzamahAl-Waqifah“, di dalamnya disebutkan (oleh penulisnya) bahwa Asy-Syaikh Al-Wushabi adalah A’duwwus sunnah(musuh sunnah)“.

Abu Ishaq berkata : “Saya tidak ingat” atau “saya tidak tahu”. [4]

Maka Asy-Syaikh ‘Abdullah Adz-Dzamari berkata kepadanya : “Bagaimana bisa engkau menganjurkan untuk membaca malzamah tersebut dalam keadaan engkau tidak tahu apa yang ada di dalamnya??!” [5]

Sementara itu di majelis lain, malzamah tersebut didatangkan kepada Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Bura’i. Kemudian beliau pun membaca pernyataan Al-‘Amudi di atas.

Maka beliau (Asy-Syaikh Al-Bura’i)pun bertanya kepada Abu Ishaq : “Apakah engkau setuju dikatakan bahwa Asy-Syaikh Al-Wushabi sebagai musuh sunnah?” [6]

Abu Ishaq menjawab : “Aku tidak setuju.”

Kemudian Asy-Syaikh Al-Bura’i kembali berkata : “Dan engkau wahai akh Muhammad Ba Jammal, bagaimana pendapatmu?” [7]

Ba Jammal berkata : “Aku tidak tahu menahu tentang malzamah tersebut.” [8]

Asy-Syaikh Al-Bura’i berkata : “Baik, Sekarang akan aku bacakan kepada kamu.”

(Lalu Asy-Syaikh Al-Bura’i pun membacakan pernyataan Al-‘Amudi di atas, bahwa Asy-Syaikh Al-Wushabi adalah musuh sunnah)

Kemudian Asy-Syaikh Al-Bura’i kembali berkata : “Sekarang apa pendapatmu?”

Ba Jammal menjawab : “Aku tidak setuju.”

* * *

Pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa di atas :

  1. Barakahnya majelis para ‘ulama. Ketika dalam majelis singkat saja, Ba Jammal dan Asy-Syibami mau mengakui akan adanya vonis yang sangat keji dalam malzamah yang berjudul “Al-Waqifah” tulisan Al-‘Amudi tersebut. Yaitu vonis bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi dan Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri sebagai musuh-musuh sunnah. Padahal malzamah tersebut telah dibaca dan diizinkan penyebarannya oleh Al-Hajuri(!!) yang berarti setuju dengan isinya, termasuk pernyataan Al-‘Amudi bahwa kedua ‘ulama tersebut adalah musuh-musuh sunnah.
  2. Bahwa para masyaikh kibar di Yaman masih tetap menghormati dan menghargai kedudukan dan kapasitas Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri dan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi sebagai dua ‘ulama kibar Ahlus Sunnah. [9]
  3. Oleh karena itu para masyaikh tidak mendiamkan ketika ada pihak-pihak yang mencela dan mencerca kedua ‘ulama besar tersebut. Sangat disayangkan, Al-Hajuri dan para muridnya telah mencela dan menjatuhkan kehormatan kedua ‘ulama tersebut, baik dalam kaset maupun malzamah-malzamah. [10]
  4. Para masyaikh kibar Yaman, termasuk dalam kesempatan ini Asy-Syaikh Al-Bura’i dan Asy-Syaikh Adz-Dzamari hafizhahumullah, menentang penyebaran malzamah tulisan Al-‘Amudi yang sudah direkomendasi oleh Al-Hajuri ini. Malzamah-malzamah semacam ini sudah sangat banyak, yang isinya tidak jauh berbeda dengan malzamah tulisan Al-‘Amudi ini, yaitu penuh caci maki, cercaan, kezhaliman, bahkan kedustaan. Parahnya, yang menjadi sasaran adalah para ‘ulama dan masyaikh kibar!!
  5. Sekaligus ini merupakan bukti untuk kesekian kalinya bahwa Al-Hajuri dan para pengikutnya tidak menggubris nasehat Asy-Syaikh Rabi’ Al-Madkhali untuk menghentikan malzamah-malzamah semacam ini. [11]
  6. Manhaj Tatsabbut yang diterapkan oleh para ‘ulama, terutama pada masa-masa fitnah. Yaitu ketika Asy-Syaikh Al-Bura’i meminta dihadirkan malzamah tersebut dan beliau membacanya. Baru kemudian memberikan hukum.
  7. Bagaimana sikap yang tepat menghadapi fitnah di Yaman? Apakah sikap tawaqquf juga merupakan sikap yang tepat?

Untuk menjawab itu, baca artikel-artikel berikut :


[1] Karena yang diinginkan oleh Al-Hajuri dan para pengikutnya adalah harus membela Al-Hajuri sepenuhnya. Maka jangankan pihak yang berjalan bersama para ‘ulama kibar, pihak yang masih tawaqquf pun mereka cerca dan mereka cela.

[2] Sebenarnya dalam ucapan ini terkandung beberapa hal :

  • Al-‘Amudi menyatakan bahwa Asy-Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Adani sebagai ular belang !!
  • Al-‘Amudi menyatakan bahwa Asy-Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Adani, Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi, dan Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri sebagai para musuh sunnah !!
  • Al-‘Amudi menyatakan bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi, dan Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri sebagai dua orang budak Asy-Syaikh ‘Abdurrahman !!

Sungguh merupakan cercaan yang sangat keji. Malzamah tulisan Al-‘Amudi ini telah dibaca dan diizinkan penyebarannya oleh Al-Hajuri, yang berarti dia setuju dengan isi malzamah tersebut, termasuk cercaan keji terhadap para ‘ulama kibar tersebut !!

[3] Dua orang ini sangat ta’asshub terhadap Al-Hajuri

[4] Perhatikan, dia berusaha mengelak.

[5] Asy-Syaikh Adz-Dzamari mengingkari perbuatan Abu Ishaq tersebut

[6] Asy-Syaikh Al-Bura’i pun mengingkari perbuatan Abu Ishaq tersebut

[7] Ini juga bentuk pengingkaran Asy-Syaikh Al-Bura’i terhadap perbuatan Ba Jammal

[8] Perhatikan, Ba Jammal ini pun mencoba hendak mengelak

[9] Sebagaimana pula para masyaikh tersebut juga masih tetap menghormati dan menghargai Asy-Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Adani sebagai ‘ulama kibar Ahlus Sunnah.

[10] Banyak malzamah yang ditulis oleh para murid Al-Hajuri yang isinya “membongkar kesalahan manhaj Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi”. Subhanallah, anak-anak baru kemarin dan jahil berani lancang membantah seorang ‘ulama kibar??! Sungguh suatu musibah besar, para murid hasil tarbiyyah Al-Hajuri yang pondasi aqidah dan manhajnya sangat rapuh ini.

[11] Sebagaimana Al-Hajuri malah membantah nasehat Asy-Syaikh Rabi’ tersebut, maka para muridnya pun juga berani menulis malzamah membantah nasehat Asy-Syaikh Rabi’ tersebut !!

Demikianlah mereka, alih-alih mau mendengar dan mengikuti nasehat ‘ulama kibar, bahkan nasehat ‘ulama dibantah oleh mereka !!