CELAAN AL-HAJURI TERHADAP SYAIKHUL ISLAM AL-MUJADDID MUHAMMAD BIN ‘ABDIL WAHHAB AN-NAJDI rahimahullah

Oleh / Rb1 11 1430 / Menjawab Yahya Al-Hajuri

Syaikhul Islam Al-Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rahimahullah mujaddid abad ke-12. Beliaulah yang telah menegakkan kembali dakwah tauhid dan sunnah. Daulah Islamiyyah Saudi ‘Arabia merupakan salah satu hasil nyata keberhasilan dakwah beliau yang penuh barakah.

Tidak seorang Ahlus Sunnah pun kecuali memuliakan dan mencintai beliau. Tidaklah membenci beliau kecuali orang yang bodoh atau para pengusung bid’ah dan kebatilan, baik dari kalangan shufiyyah, rafidhah, asy’ariyyah, maturidiyyah, dll. Mereka melontarkan tuduhan-tuduhan keji terhadap beliau dan dakwah tauhid yang beliau tegakkan. Mereka menuduh Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab membawa ajaran baru, mengkafirkan kaum muslimin, antek-antek kafir, dan berbagai tuduhan keji lainnya.

Duhai betapa disesalkan, ternyata Al-Hajuri juga tidak terlewatkan dari melecehkan beliau. Al-Hajuri merendahkan kapasitas keilmuan beliau rahimahullah.

Berikut pernyataan Al-Hajuri :

wmp-icon cela muhmd b whhb

( الشيخ محمد بن عبد الوهاب هو عليه رحمة الله مجدد، ومع ذلك ما كان يعتني بجانب التصحيح والتضعيف، إما أنه مشغول عن هذا بأمور، وإما أنها ما كانت له قوة في جانب الحديث، نعم هو قوي في الفقه وقوي في يعني ماذا في السنة والتوحيد، وما إلى ذلك، وفي الاستنباطات من الآيات، كما رأيت كتاب التوحيد كيف يستنبط من الأحاديث عدة فوائد، أما الحديث فما كانت له يدٌ قوية عليه رحمة الله، هذا لا يشك فيه من قرأ كتب الإمام، أما من يريد أن يتعصب له فليتعصب يعني من أولئك الذين يقولون إنه نعم هو في حدوده محدث في حدود ما يستطيع ليس كالمحدثين الذين شاد شأنهم ).

“Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb, beliau ‘alaihi rahmatullâh adalah mujaddid. Namun demikian, beliau tidak perhatian pada bidang tashhih dan tadh’îf (menentukan hukum shahih atau dha’if terhadap hadits-hadits Nabi r). Bisa jadi karena beliau sibuk dengan berbagai urusan, atau bisa jadi karena memang beliau tidak memiliki kemampuan dalam bidang hadits. Ya, dia kuat dalam bidang fiqh, kuat dalam bidang tauhid dan sunnah, dan semisalnya, kuat dalam mengambil istinbâth (kesimpulan hukum) dari ayat-ayat (Al-Qur’an), sebagaimana yang engkau lihat dalam Kitâbut Tauhîd, bagaimana beliau bisa mengambil istinbâth berbagai faedah dari hadits-hadits. Namun beliau tidaklah memiliki kemampuan yang besar dalam bidang hadits, ‘alaihi rahmatullâh, perkara ini tidak akan ragu padanya bagi barangsiapa yang membaca kitab-kitab Al-Imâm (Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb). Adapun orang yang hendak ta’ash-shub kepadanya maka silakan berta’ash-shub. Yaitu orang-orang yang mengatakan bahwa beliau (Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb) tergolong muhaddits, ya dia muhaddits sesuai dengan tingkatannya. Dia (Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb) bukanlah seperti para muhaddits yang tinggi kapasitas (keilmuan/kedudukan) mereka.”

Demikiankah cara penilaian terhadap seorang mujaddid besar.

Berikut penegasan Al-‘Allamah Al-Muhaddits Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah terhadap orang-orang yang mencela kapasitas keilmuan Al-Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rahimahullah .

wmp-icon alAbd ttg cela muhmd b whb

Ketika beliau ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut : “Ada orang-orang yang mencela Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab dengan mengatakan bahwa beliau tidak memiliki ilmu dalam bidang hadits dan sanad-sanadnya. Karena banyak hadits-hadits yang dikritik dalam Kitabut Tauhid dan yang lainnya. Bagaimana pendapat anda?”

Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah menjawab :

اجتهاد الشيخ في الحديث وعنايته واضحة وأوضح شاهد على ذلك هذا المجموع الذي أربعة ألآلاف وستمائة حديث وهو ينقل كلام العلماء وكذلك يعني ينقل المخرجين وكلام العلماء في الحكم وكذلك كتبه الأخرى, هذا كله يدل على عنايته بالحديث .. كثير من العلماء يعرفون الكثير من الأحاديث وأحكامها ويجهلون كثيراً منها ولا يؤثر ذلك علمه وهذا في مختلف العصور والدهور .. العلماء المتقدمون ألفوا كتبا، وفي كتبهم من حكم العلماء على بعضها بالصحة وعلى بعضها بالضعف، المنذري كتاب الترغيب والترهيب فيه أحاديث كثيرة، الأكثر صحيح وفيه أحاديث ضعيفة، فإذا وُجد عند الشيخ محمد بن عبدالوهاب أحاديث ضعيفة لا يعني ذلك أنه ليس عالم بالحديث، فإن كثيراً من العلماء بالحديث عندهم علم بالحديث وعندهم يأتي عندهم أحياناً ذكر بعض الأحاديث الضعيفة ولكن ذلك لا يؤثر عليه ولا يؤثر على علمهم ولا على منزلتهم ).

Ijtihad Asy-Syaikh (Muhammad bin ‘Abdil Wahhab) dalam bidang hadits dan perhatian beliau terhadapnya sangat jelas. Bukti paling jelas atas hal tersebut adalah kitab Majmu’ ini yang terdiri atas 4.600 hadits, beliau menukil penjelasan para ‘ulama, menukil para pentakhrij dan penjelasan para ‘ulama tentang hukum (kedudukan hadits tersebut). Demikian juga kitab-kitab beliau lainnya, itu semua menunjukkan atas perhatian beliau dalam bidang hadits … tidak sedikit ‘ulama yang mengerti banyak hadits dan hukum (kedudukan)nya, di sisi lain banyak pula hadits-hadits yang belum mereka ketahui. Meskipun demikian, hal itu tidak berpengaruh pada kepasitas keilmuannya. Yang demikian itu terjadi pada setiap masa dan waktu. … . Para ‘ulama terdahulu menulis berbagai kitab, dan dalam kitab-kitab tersebut terdapat penjelasan (kesimpulan hukum) para ‘ulama terhadap sebagian hadits yang dinyatakan shahih dan sebagiannya lagi dinyatakan dha’if. (Misalnya), Al-Mundziri, menulis kitab At-Targhîb wat Tarhîb, di dalamnya memuat banyak hadits, mayoritasnya shahih, namun ada juga beberapa hadits yang dha’if.

Maka apabila didapati pada (kitab-kitab karya) Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab hadits-hadits yang dha’if tidak berarti beliau bukan pakar dalam ilmu hadits. Karena banyak ‘ulama hadits, yang memiliki ilmu hadits, terkadang mereka menyebutkan hadits-hadits yang dha’if, namun itu tidak berpengaruh padanya, tidak berpengaruh pada kapasitas keilmuan dan kedudukannya.”