JAZAKALLAHU KHAIRAN ATAS KRITIKNYA WAHAI SAUDARAKU

Oleh / DhQ 21 1439 / Lain-lain

JAZAKALLAHU KHAIRAN ATAS KRITIKNYA WAHAI SAUDARAKU
(Klarifikasi Audio Manasik Haji)

Luqman bin Muhammad Ba’abduh

Hari-hari ini beredar (baca: diedarkan) sebuah potongan audio salah satu kajian yang saya sampaikan tentang permasalahan haji yang didapati padanya beberapa kesalahan, yang kemudian bermunculan beragam sikap dan komentar dari pihak yang berbeda-beda,

Di antara mereka ada yang mencoba menyampaikan kepada saya dengan nada terheran-heran apa benar saya mengucapkan hal itu, kemudian menyampaikannya sebagai masukan positif disertai kesantunan kata dan kearifan sikap dari beberapa asatidzah dan teman-teman,

Ada pula yang menjadikannya sebagai bahan kritikan yang pada dasarnya baik, namun sayang kebaikan itu ternodai dengan kata-kata yang tidak pantas dan sikap mengolok-ngolok terkhusus dari pihak-pihak yang berashabiyah dan bertaqlid kepada Doktor Muhamamad bin Hadi dalam fitnah yang dimunculkannya hari-hari ini.

Kemudian sikap pihak kedua ini pun tidak disia-siakan oleh beberapa al-Halabiyun (pendukung pemikiran Ali bin Hasan al-Halaby), mereka menggunakan kesempatan ini untuk ikut menyebarkannya melalui beberapa medsos.

Namun apapun kondisinya,

Pertama, saya sangat bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang telah memunculkan orang-orang yang menampakkan kritikan atas kesalahan-kesalahan saya. Harapan saya, semoga ini sebagai bentuk pertolongan-Nya kepada diri saya agar bisa membenahi kesalahan-kesalahan, beristighfar dan bertaubat kepada Allah al-Ghafur ar-Rahim sebelum datangnya ajal.

Sekaligus dengan tulisan ini saya berharap kesalahan-kesalahan tersebut tidak diikuti oleh orang lain dengan meyakininya sebagai kebenaran.

Kedua, saya mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang menyampaikan kritik tersebut, semoga Allah menerimanya sebagai amal shalih dan menjadi sebab pertolongan Allah untuk mereka dalam beristiqamah di atas agama-Nya. Allahumma amin.

رَحِمَ اللهُ امرًا أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي

Semoga Allah merahmati seseorang yang menghadiahkan (menyampaikan) kepadaku kesalahan-kesalahanku

Ketiga, saya sebagai manusia biasa tidak lepas dari keadaan yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam

«كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ» .

Setiap Anak Adam (manusia) sering berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat

Semoga Allah menggolongkan saya termasuk dalam bagian hamba hamba-Nya yang at-Tawwabun. Amin

Sebelum saya menyebutkan kesalahan-kesalahan tersebut, perkenankan saya menyebutkan sedikit kronologi permasalahan yang sebenarnya.

Potongan audio yang berisi beberapa kesalahan saya seputar Wuquf di Arafah sebenarnya terjadi pada salah satu bagian/rangkain kajian pada hari tersebut.

Kemudian dengan taufiq Allah Ta’ala semata pada bagian berikutnya masih bagian dari kajian tersebut, di tempat dan acara yang sama pula saya berkesempatan meluruskan keterangan-keterangan salah pada kajian sebelumnya, dan Alhamdulillah itu masih tersimpan dalam audio lanjutan kajian tersebut, semoga bisa segera disebarkan juga.

Saya tidak tahu apakah pihak-pihak yang mengkritisi saya benar-benar belum memiliki audio lanjutan tersebut?!

Kalau seandainya tidak terburu-buru dan mau dengan tenang menyimak rekaman tersebut Insyaallah dia akan tahu bahwa kajian tersebut masih berlanjut.

Namun sudah terlanjur tersebar dan menjadi bahan olok-olok di medsos atau yang lainnya, semoga Allah mengampuni kita semua.

Atau mereka sebenarnya telah tahu adanya audio lanjutan tetapi tidak mempedulikannya, atau bahkan telah memiliki rekaman lanjutan tersebut tetapi sengaja disembunyikan semoga dua kemungkinan ini tidak terjadi, tetapi kalau ini yang terjadi sungguh hal ini menunjukkan adanya niat-niat yang tidak baik dari pelakunya, semoga Allah juga memberikan ampunan kepadanya.

Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kesalahan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah terkait beberapa permasalahan seputar Wuquf di Arafah yang saya sampaikan pada sebuah kajian sekitar tahun 2006 atau 12 tahun lalu, antara lain:

1. Saya menyebutkan bahwa ”dilakukan Mabit di Arafah hingga waktu subuh”, maka ini adalah kesalahan fatal yang saya bertaubat kepada Allah darinya dengan mengharap ampunan dan ridha-Nya.

Sementara yang benar adalah tidak ada mabit di Arafah dan bahwa waktu wuquf dimulai sejak waktu Dzuhur kemudian meninggalkan Arafah ketika matahari terbenam untuk selanjutnya menuju Muzdalifah untuk melakukan mabit padanya hingga waktu subuh dan melakukan shalat subuh di Muzdalifah.

2. Saya juga menyebutkan bahwa di Arafah melakukan shalat lima waktu: Dzuhur dan Ashar kemudian Maghrib dan Isyak dengan menjamak dan mengqashar.

Sementara yang benar adalah menjamak dan mengqashar Dzuhur dan Ashar di Arafah, kemudian setelah tiba di Muzdalifah menjamak Maghrib dan Isyak dan melakukan Mabit di sana hingga waktu Subuh, kemudian pada pada harinya (10 Dzulhijjah) melakukan shalat subuh di Muzdalifah kemudian menuju ke Mina.

Demikian secara ringkas.

bersambung, Insyaallah