KARENA KHUTBAHNYA SUDAH TERDENGAR, JUM’ATAN CUKUP DI TEMPAT NDERES KELAPA

Oleh / Rb2 30 1438 / Lain-lain

Inilah satu hal yang sangat memprihatinkan di Muara Dua dan desa tetangganya, Binangun. Sebagian masyarakatnya meyakini boleh Jum’atan di pohon kelapa sambil nderes.

“Kan ceramahnya kedengaran dari pohon kelapa.” Katanya.

Sebagian yang lain cukup melaksanakan shalat Jum’at di rumah-rumah mereka. Entah karena kecapekan, atau karena masalah waktu yang menurut mereka nanggung, sedikit lagi pohon yang dideres. Yang jelas, begitulah keadaan masyarakat di sana.

Muncul pertanyaan di benak, apakah selama ini, sejak mereka masih anak-anak hingga sekarang dewasa, tidak ada satu pun yang mengajari cara ibadah yang benar? Selama itukah mereka kosong dari siraman rohani?

Butuh uluran tangan para dai untuk membimbing dan mengajarkan agama kepada mereka. Ternyata- tuntunan Islam belum sepenuhnya menyentuh masyarakat pedalaman yang notabene muslim.

Di sisi lain, sering terdengar keluhan kurangnya tenaga pengajar dan dai di daerah-daerah lain di penjuru nusantara ini. Kebutuhan umat terhadap dai tidak sebanding dengan ketersediaan tenaga yang mumpuni di bidang ini.

Saatnya Ahlussunnah tersadar, belajar ilmu agama tidak cukup dilakukan oleh santri-santri di pondok pesantren maupun anak-anak di madrasah. Semuanya, laki perempuan, tua muda, besar kecil, masih bujang maupun yang sudah berkeluarga harus belajar dan bersiap untuk menjadi pengajar.

Mengajari umat bukan hanya menjadi tanggung jawab syaikh maupun ustadz. Namun siapa saja yang tahu dan mengerti al-haq, wajib untuk mengajarkan dan menebarkan al-haq itu di tengah umat.

Tidaklah berlebihan bila suatu ketika asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan bahwa umat ini butuh 1000 orang semisal asy-Syaikh al-Albani rahimahullah.

Karena Khutbahnya Sudah Terdengar, Jum’atan Cukup Di Tempat Nderes Kelapa

#PKL
#kampunglaut
#minhajulatsar #pesantren #ustadz