Keistimewaan-Keistimewaan Penting Dakwah Asy-Syaikh Muqbil (2)

Oleh / Jm1 14 1430 / Fawaid

KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN PENTING

DAKWAH AL-IMAM MUQBIL BIN HADI AL-WADI’I RAHIMAHULLAH

(tulisan ke-2)

Istimewa Dakwah sy.Muqbil-2

Di Antara Keistimewaan Manhaj yang berjalan di atasnya Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dalam Dakwahnya Al-Mubarakah yang bersumber dari Al-Kitab dan As-Sunnah di atas paham Salaful Ummah, sebagai berikut :

KEISTIMEWAAN KEEMPAT :

SEMANGAT DAN DORONGAN YANG KUAT UNTUK MENYATUKAN KALIMAT DI ATAS AL-KITAB DAN AS-SUNNAH

Semangat dan dorongan yang kuat Al-Imam Al-Wadi’i untuk menyatukan kalimat.

Adalah Syaikhuna Al-Wadi’i orang yang paling kuat semangatnya untuk menyatukan kalimat kaum muslimin, terutama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, di bawah naungan Al-Kitab dan As-Sunnah, di atas pemahaman As-Salafush Shalih ridhwanullah ‘alaihim

Pernyataan Asy-Syaikh Muqbil dalam mendorong tersatukannya kalimat kaum muslimin sangat sangat banyak, di tengah-tengah kitab-kitab dan kaset-kaset beliau. Dan beliau memiliki khuthbah khusus berjudul “Jam’ul Kalimah” yang sudah dicetak termasuk bagian dari kitab Al-Mushara’ah (40), dan akan saya nukilkan di sini bi`idznillah cuplikan-cuplikan dari pernyataan beliau rahimahullah dalam khuthbah tersebut :

“Sesungguhnya wajib atas setiap du’at ilallah untuk menyatukan kalimat mereka dan agar mereka menjadi satu tangan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [آل عمران/103]

“Berpegangteguhlah kalian semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah.” [Ali ‘Imran : 103]

(kemudian beliau menyebutkan banyak dalil dalam permasalahan ini)

Lalu beliau berkata :

“Musuh-musuh Islam tidak takut dari kekuatan pertahanan kita, tidak takut dari pesawat-pesawat tempur kita, dan tidak pula takut dari kekuatan persenjataan kita, namun mereka takut dari para du’at ilallah. Oleh karena itu mereka (para musuh Islam) sangat bersemangat untuk memecahbelah antar pada du’at tersebut.” (Gharatul Asyrithah I/204-207).

Beliau juga berkata, “Wajib atas kaum muslimin untuk mereka bersatu, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

« مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر » متفق عليه من حديث النعمان بن بشير -رضي الله عنه-

“Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan, kasih sayang, dan saling lembut adalah seperti jasad yang satu. Kalau salah satu anggota badan mengeluh kesakitan, maka seluruh badannya akan turut merasakannya dengan demam dan tidak bisa tidur.” [Muttafaqun ‘alaihi, dari hadits An-Nu’man bin Basyir Radhiyallah ‘anhu ]

Beliau juga bersabda,

« المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا » متفق عليه من حديث أبي موسى الأشعري -رضي الله عنه-

“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya adalah seperti sebuah bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” [Muttafaqun ‘alaihi, dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallah ‘anhu ]

Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Kitab-Nya :

“Hanyalah kaum mukminin itu saling bersaudara.” [Al-Hujurat : 10]﴿

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ﴾ (لأنفال: من الآية1

“oleh sebab itu bertaqwalah kalian kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian;” [Al-Anfal : 1]

Maka wajib atas para ‘ulama dan para du’at ilallah untuk bersatu kalimat mereka. Ini merupakan perkara yang terlihat oleh mata. Sementara musuh-musuh Islam sangat senang dengan adanya perpecahan.” (Gharatul Asyrithah I/305 – dengan sedikit ada peringkasan).

Beliau rahimahullah juga berkata dalam menasehati para du’at ilallah, “Saya nasehatkan mereka dengan persatuan kalimat. Ketahuilah barakallah fikum, bahwa musuh-musuh Islam berupaya dengan segala cara untuk memecah belah kaum muslimin terutama para du’at ilallah yang kedudukan mereka sangat tinggi, yang merupakan para pembesar dan para pemimpin, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia,

﴿وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ﴾ (فصلت:33)

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru/berdakwah kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” [Fushshilat : 33] (Al-Mushara`ah 92)

Beliau rahimahullah berkata : “Sesuatu yang paling kami cintai adalah bersatunya kalimat kita.” (Gharatul Asyrithah I/358)

Ancaman Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah terhadap orang yang mengajak kepada perpecahan dan tidak menyatukan kalimat

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah memilki banyak pernyataan dalam memberikan ancaman terhadap kelompok jelek ini. Saya dinukilkan di sini sebagiannya –barangsiapa yang ingin tambahan lebih banyak lagi silakan merujuk langsung kepada kitab-kitab beliau, karena di dalamnya sarat dengan hal tersebut- :

Beliau rahimahullah berkata : “Wajib atas kita untuk menyatukan barisan kita, dan kita berdakwah kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Sedangkan siapa yang mengajak kepada perpecahan, maka sangat dikhawatirkan akan turun petir dari langit atasnya. Akan kaum muslimin, sangat besar kebutuhan mereka untuk bersatu di bawah naungan Al-Kitab dan As-Sunnah.” (Fadha`ih wa Nasha`ih, 126).

Beliau rahimahullah berkata : “Kita bersaksi kepada Allah, bahwa kita merasakan kelemahan disebabkan terpecahnya persatuan. Maka siapa yang mengajak kepada perpecahan, maknya adalah sudah tidak penting lagi baginya urusan kaum muslimin.” (Qam’ul Mu’anid, 113)

Beliau rahimahullah berkata setelah menyebutkan berbagai dalil yang mendorong persatuan kalimat, “Maka wajib atas segenap kaum muslimin untuk menyatukan kalimat mereka, agar mereka mampu menghadapi musuh-musuh mereka. Musuh-musuh Islam sangat bersemangat untuk memecah belah kalimat kaum muslimin. Maka barangsiapa yang tidak menginginkan kecuali timbul perpecahan (kaum muslimin), maka sungguh dia adalah shahibu hawa (pengekor hawa nafsu).” (Al-Mushara’ah : 43)

Inilah sekelumit tentang manhaj Al-Imam Al-Wadi’i rahimahullah yang bersumber dari Al-Kitab dan As-Sunnah dalam memberikan dorongan yang sangat kuat untuk menyatukan kalimat dan peringatan dari perpecahan dan perselisihan.

* * *

KEISTIMEWAAN KELIMA :

SEMANGAT YANG BESAR UNTUK BERDAKWAH, TIDAK MEMBENTURKANNYA DENGAN KELEMAHAN DAN PERBUATAN-PERBUATAN YANG MEMBUAT MUSUH SENANG

Al-Imam Al-Wadi’i sangat bersemangat dalam dakwah.

Adalah Syaikhuna Al-Imam Al-Wadi’i rahimahullah memiliki semangat yang kuat untuk senantiasa menjaga Dakwah Salafiyyah, dan jangan sampai terbentur dengan sedikit saja dari sifat kelemahan atau perbuatan yang membuat lawan menjadi senang. Mudah bagi beliau segala sesuatu di jalan dakwah tersebut. Maka darah, harta, dan kehormatan beliau sebagai tebusan untuk dakwah penuh barakah ini. Kecintaan beliau terhadap dakwah sudah mendarah daging, dakwah menjadi sesuatu yang paling beliau cintai dalam kehidupan ini. Bagaimana tidak, sementara beliau adalah salah seorang pembawa bendera dakwah, salah seorang pimpinan besar dakwah dari kalangan para mujaddid pada masa ini, (demikian kami menilainya dan Allah yang menhisabnya, kami tidak mentazkiyah seorang pun di hadapan Allah).

Berapa banyak kami mendengar orang yang padanya banyak wasiat-wasiat untuk mementingkan dakwah, lainnya lagi untuk senantiasa menjaga dakwah, lainnya lagi untuk bersemangat menyebarkan dakwah, lainnya lagi untuk membela dakwah. Dakwah merupakan ruhnya, darahnya, dan perbendaharaannya sehingga beliau menjadi penjaganya sepanjang hayatnya sampai Allah mewafatkan beliau.

Barangsiapa sering duduk bersama Asy-Syaikh (Muqbil), atau sering membaca kitab-kjtab beliau, terutama transkrip dari kaset-kaset beliau, maka dia akan mengetahui hakekat hal di atas. Berbagai ucapan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam permasalahan terlalu banyak tidak bisa dihitung. Namun akan kita sebutkan sebagian kecilnya untuk menunjukkan kepada kita. Di antaranya :

Ucapan beliau rahimahullah, “Kita, telah dijadikan kita mencintai sunnah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam dengan segenap hati-hati kita. Maka sunnah lebih kita cintai daripada diri kita sendiri, lebih kita cintai daripada harta-harta kita, dan lebih kita cintai daripada anak-anak kita.” (Ijabatus Sa`il 54).

Beliau rahimahullah juga berkata, “Ya, sunnah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam kita tebus dengan darah dan jiwa kita, kita tebus dengan kehormatan kita. Maka kehormatan kita sebagai tebusan bagi sunnah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam, harta-harta kita sebagai tebusan bagi sunnah Rasululah Shallahu ‘alaihi wa Sallam, dan darah-darah kita sebagai tebusan bagi sunnah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam.” (Al-Fawakih Al-Janbiyyah, 168-169).

Adalah beliau, karena kuatnya semangat beliau terhadap Dakwah Salafiyyah yang telah mengambil tempat pada seluruh hati beliau, dan kecintaan beliau terhadap dakwah sudah mendarah daging, maka beliau sangat sedih apabila dakwah dibenturkan dengan kelemahan, atau ketidakmampuan, atau perbuatan yang bisa menyenangkan lawan. Sesungguh itu merupakan perkara yang paling menyusahkan dan memberatkan beliau. Tidaklah yang demikian itu kecuali karena jauhnya pandangan beliau, luasnya keilmuan beliau, dan kejujuran beliau kepada Allah dalam membela Dakwah Salafiyyah, (demikian kami menilainya dan Allah yang menhisabnya, kami tidak mentazkiyah seorang pun di hadapan Allah).

Di antara bukti semangat beliau yang tinggi dalam praktek nyata adalah, beliau terkadang berbeda dengan syaikh(guru)nya Sang Muhadditsul ‘Ashr Al-Albani rahimahullah dalam penshahihan beberapa hadits. Maka beliau menyebutkan hadits tersebut dalam kitabnya Ahadits Mu’allah (Hadits-hadits berpenyakit yang sepintas tampak shahih) tanpa beliau menyebutkan bahwa Asy-Syaikh Al-Albani telah menshahihkannya, dengan alasan yang beliau katakan, “Saya tidak menyebutkan bahwa hadits tersebut telah disebutkan (dishahihkan) oleh Asy-Syaikh (Al-Albani) dalam Silsilah Ash-Shahihah karya beliau, dalam rangka agar tidak terjadi benturan antara para ‘ulama.” (Gharatul Asyrithah I/291).

Diminta dari beliau keturutsertaan (untuk menulis) pada beberapa majalah, maka beliau menyatakan bahwa dirinya tidak berminat untuk itu. Kemudian beliau beliau, “Apa datang pemilik majalah atau koran kepadaku atau menulis (permintaan) kepadaku, kemudian memandang bahwa aku memang perlu menulis apa yang aku inginkan atau aku pandang benar, maka pasti aku akan menulisnya insya Allah. Namun kalau hanya untuk ilmu itu dihinakan, yang bisa aku mengirim tulisan namun tidak dimuat, atau aku mengirim tulisan namun diberi berbagai komentar/kritikan, dan dibuat sebagai bahan ejekan, sehingga kita membuka bagi para musuh untuk bergemberi dan melecehkan kita, maka yang demikian tidak akan aku lakukan.”

Dan aku ingat, bahwa Syaikhuna Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi hafizhullah berijtihad pada suatu kali, dan tampak bagi beliau hukum kufur atas salah seorang pentolan ahlul bid’ah pada masa ini. Karena dia telah mengucapkan berbagai perkataan yang dihukumi oleh sebagian ‘ulama kibar bahwa itu ucapan riddah (murtad), dan termasuk yang pertama kali mengingkari ucapan tersebut adalah Syaikhuna Muqbil rahimahullah.

Maka datanglah Syaikhuna Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rahimahullah ketika itu berziarah ke Dammaj. Maka Al-Imam Al-Wadi’i pun memberikan kesempatan kepada beliau, sebagaimana mana biasanya, untuk menyampaikan beberapa patah kalimat yang diridhai oleh Allah. Maka Al-‘Allamah Al-Wushabi pun menyampaikan muhadharah-nya, dan Syaikhuna tidak mengomentari/mengkritiknya sedikitpun. Kemudian setelah beberapa hari, Asy-Syaikh Muqbil mengingatkan akan kesalahan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi dalam memberikan hukum kafir terhadap tokoh ahlul bid’ah yang sesat tersebut. Di antara yang beliau (Asy-Syaikh Muqbil) sampaikan ketika itu : “Telah berkata kepadaku Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, ‘Kenapa engkau tidak mengingkariku lansung setelah muhadharah-ku?’ maka aku jawab kepada beliau, ‘agar orang tidak mentertawakan kita, dengan mengatakan bahwa Ahlus Sunnah saling bertengkar antara sesama mereka.” !!! kemudian Syaikhuna Al-Wushabi segera rujuk dari pendapatnya tersebut.

Sungguh demi Allah, Al-Imam Al-Wadi’i betapa dalam pemahaman beliau, betapa luas cara pandang beliau, dan betapa beliau sangat perhatian terhadap mashlahah (akibat baik) dan mafsadah (akibat jelek), dan betapa besar semangat beliau dalam dakwah, dan mematahkan cela yang dimanfaatkan lawan, serta membungkam lisan mereka yang mengintai kesalahan dakwah salafiyyah.

Bahkan Al-Imam Al-Wadi’i rahimahullah berpendapat, bahwa jika ada seorang atheis datang hendak mengadu domba antara kamu (ahlus sunnah) dengan seorang ahlul bid’ah penganut syi’ah, dalam rangka dia (si atheis tersebut) mengolok-olok orang-orang berjenggot (ahlus sunnah), maka engkau jangan menampakkan sikap apa-apa terhadap si penganut syi’ah tersebut agar si atheis kafir tersebut tidak menertawakan kalian. Lihat Ijabatus Sa`il hal. 59-60, dan mirip dengan itu dalam Qam’ul Mu’anid (423).

* * *

KEISTIMEWAAN KEENAM :

MENERIMA NASEHAT DAN SEGERA RUJUK KEPADA AL-HAQ

Sikap Al-Imam Al-Wadi’i rahimahullah yang mudah menerima nasehat dan beliau cepat rujuk kepada Al-Haq.

Di antara sifat dan sikap terpuji yang Al-Imam Al-Wadi’i dikenal dengannya adalah sikap beliau yang mudah menerima nasehat, dan betapa cepatnya beliau rujuk kepada al-haq jika telah jelas bagi beliau, meskipun nasehat atau penjelasan al-haq tersebut datang melalui jalan salah seorang musuh beliau, atau penuntut ilmu yunior kecil, atau semisalnya. Beliau tidak gengsi terhadap al-haq, karena al-haq merupakan puncak cita-cita beliau.

Al-‘Allamah Al-Mujahid Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah berkata tentang Al-Imam Al-Wadi’i : “Saya katakan, aku mengenal tokoh besar ini dengan kejujuran dan keikhlasan, sifat ‘iffah (menjaga kehormatan diri) dan zuhd, aqidah yang benar, manhaj salafi yang selamat, dan sikap mau rujuk kepada Al-Haq baik di hadapan orang kecil maupun besar.” (Tadzkirun Nabihin, 397).

Syaikhuna Al-Jalil Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata ditengah-tengah beliau menghitung berbagai keistimewaan Syaikhuna Muqbil rahimahullah, “Cepatnya beliau rujuk kepada al-haq jika beliau tahu bahwa dirinya salah. Dan ini merupakan di antara tanda-tanda kekokohan dan kemendalaman dalam ilmu yang bermanfaat.” (Al-Imam Al-Alma’i).

Realita nyata merupakan sebaik-baik saksi. Berapa banyak seorang thalib (penuntut ilmu) sebelumnya tidak mengenal sunnah kecuali melalui dakwahnya Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah. Dia datang kepada Asy-Syaikh Muqbil yang bisa jadi ketika itu dia belum bagus qira’ah maupun tulisannya. Kemudian Asy-Syaikh Al-Wadi’i bersabar mengajarinya, sampai Allah bukakan (ilmu) atasnya. Terkadang si thalib (murid) tersebut mengingatkan kesalahan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam menshahihkan suatu hadits, yang ternyata hadits tersebut telah dicela oleh sebagian huffazh dengan suatu yang mencacati (keshahihan)nya. Atas semisal itu. Asy-Syaikh  Muqbil pun menyadarinya, dan beliau tidak gengsi untuk segera rujuk dari kesalahan tersebut meskipun sudah tersebar dan tersiar, bahkan sudah kadung dicetak pada sebagian kitab. Bahkan beliau memuji si thalib tersebut dengan kebaikan. Bahkan sebagai dorongan atasnya, maka si thalib tersebut (diminta) berdiri pada dars ‘am (pelajaran umum) di samping kursi Asy-Syaikh Muqbil di hadapan para murid beliau untuk membacakan di hadapan para murid wahm yang Asy-Syaikh Muqbil terjatuh padanya. Kemudian Asy-Syaikh tidak cukup sampai di situ, bahkan beliau memanggilnya dan memerintahkannya untuk menuliskan namanya di bawah peringatan atas kesalahan Asy-Syaikh tersebut, lalu Asy-Syaikh Muqbil mengambil kertas tersebut dan diikutkan dicetak pada sebagian kitab beliau, lengkap nama sang thalib yang telah mengingatkan kesalahan tersebut. Kitab beliau Ahadits Mu’allah adalah sebaik-baik saksi dalam hal ini. Itu semua adalah dalam rangka dorongan bagi para thullab untuk mau rujuk kepada al-haq dan sebagai bentuk tarbiyah bagi mereka di atas sikap tersebut.

Sungguh betapa luar biasa sang ‘alim rabbani ini, dan betapa lapang dada beliau.

Pernah terjadi niqasy tentang satu permasalahan. Maka salah seorang murid dari arah kanan tampil berdiri, yang lain lagi dari arah kiri, bahkan ada pula orang ketiga dan keempat, masing-masing menyampaikan isykalnya terhadap Asy-Syaikh Muqbil, maka beliau pun memberikan jawabannya kepada mereka. Terkadang beliau meminta dari mikrofon   salah seorang thalib untuk datang di hadapan para thalabatul ‘ilmi. Asy-Syaikh Muqbil berusaha memuaskan muridnya semaksimal yang beliau mampu. Terkadang Asy-Syaikh Muqbil memerintah untuk mengkaji suatu permasalahan, maka tatkala terbukti bahwa beliau-lah yang salah, beliau mengingatkan hal tersebut pada dars ‘am (pelajaran umum), dengan ucapan beliau, “Wahai saudara-saudaraku, yang benar dalam permasalahan ini adalah bersama saudara kita si fulan,  …” bahkan engkau dapati beliau sangat gembira terhadap orang yang mengingatkan kesalahan beliau, dan mendo’akan kebaikan untuknya. Di antara pernyataan beliau dalam hal ini, “Aku gembiri dengan sangat gembira, jika ada yang menjelaskan kesalahanku, baik itu dari orang yang cintai atau dari musuhku, atau dari temanku sendiri. Maka menyikapi berbagai teguran dengan dada lapang. Kalau seandainya aku punya harta akan aku bayar dia. Siapakah yang tidak pernah salah? Aku berharap Allah memudahkan orang yang mengingatkan kesalahanku. Aku menyikapi berbagai bantahan dan kritikan dengan dada lapang, dan aku tidak peduli. Walhamdulillah.” (Gharatul Asyrithah I/294-295).

Beliau rahimahullah juga berkata, “Aku persaksikan kepada kalian, bahwa aku rujuk dari segala kesalahanku, baik dalam kitab-kitabku, kaset-kasetku, maupun dalam dakwahku, ikhlash karena Allah ‘Azza wa Jalla. Aku rujuk dengan jiwa yang bersih dan tenang.” (Tuhfatul Mujib 316)

Beliau rahimahullah berkata : “Telah kami sebutkan dalam banyak kaset dan dalam banyak kitab, bahwa jika diketahui kesalahan-kesalahan kami, maka kami siap untuk rujuk.” (Gharatul Asyrithah I/224) dengan singkat.

Beliau rahimahullah berkata : “Ahlus Sunnah tidak mengklaim untuk dirinya kesempurnaan. Mereka siap untuk menerima nasehat. Maka nasehat yang datang kepadaku dari Najd, atau dari Shan’a, atau dari Aljazair, atau dari lainnya,  lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya. Kami siap menerimanya, karena kami tahu bahwa kami adalah thalabul ‘ilmi. Kami bisa benar, bisa salah, bisa tahu, bisa tidak tahu. Oleh karena itu mereka (ahlus sunnah) menghimbau saudara-saudaranya untuk menasehatinya, dan mengajak saudara-saudaranya untuk berta’awun dengannya.” (Ijabatus Sa`il 250).

Ini merupakan bukti terbesar sifat tawadhu’ beliau dan keadilan beliau rahimahullah yang denganya dan dengan sikap semisalnya Allah mengangkat beliau ke puncak langit.

Bersambung insya Allah ….

diterjemahkan dari http://sahab.net/forums/showthread.php?t=367848 dengan sedikit perubahan.