KRITIK TAJAM TERHADAP ASY-SYAIKH AL-HAJURI (3)

Oleh / Rb1 7 1430 / Menjawab Yahya Al-Hajuri

PEMBELAAN ATAS ASY-SYAIKH AL-‘ALLAMAH ‘UBAID AL-JABIRI hafizhahullah

untitled5

ماذا ينقمون على الشيخ الحجوري؟؟ ( الجزء الثالث )

pdf_icon abdullah bin rabi3

Rangkaian seri kritik ilmiah karya ‘Abdullah bin Rubayyi’ As-Salafy berikutnya, yaitu juz ke-3 selesai ditulis pada hari Ahad 2 Sya’ban 1429 H.

Seri ke-3 ini dimaksudkan oleh penulisnya sebagai pembelaan atas kehormatan dan harga diri seorang ‘ulama mulia, yaitu Al-‘Allamah Al-Muhaddits Asy-Syaikh Al-Walid ‘Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman Al-Jabiri hafizhahullah dari kezhaliman Al-Hajuri. Oleh karena itu juz ke-3 diberi sub judul :

القول الجلي في الذب عن الشيخ الجابري والرد على الحجوري المعتدي

“Keterangan yang Jelas dalam Pembelaan terhadap Asy-Syaikh Al-Jabiri dan Bantahan terhadap Al-Hajuri yang Zhalim”

Telah keluar satu kaset khusus dari Al-Hajuri, yang memang khusus ‘menghabisi’ kehormatan dan kemulian Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri. Kaset tersebut berjudul Isyaratut Ta’kid ‘ala anna Sabta Al-Hizbiyyah Al-Jadidah Al-Muna’isy laha fil Yaman Huwa Asy-Syaikh ‘Ubaid. Al-Hajuri memenuhi kaset tersebut dengan berbagai celaan dan penghinaan terhadap Asy-Syaikh ‘Ubaid dengan menggunakan berbagai kosa kata kotor yang ia miliki.

Di antara celaan dan penghinaan Al-Hajuri kepada Asy-Syaikh ‘Ubaid adalah :

( حزبي= hizbi )، ( سبت هذه الحزبية الجديدة ‘Abdullah bin Sabt-nya hizbiyyah baru = )،              ( شيبة tua bangka = )، ( مغمور غير معروف terbenam tidak terkenal = )، ( سفيه dungu = )،       ( أحمق dungu =)، ( فسوة عجوز kentut nenek tua =)،

( يتدخل فيما لا يعنيه turut campur dalam perkara yang bukan urusannya = )، ( مجنون gila = )،    ( دجال وفاجر dajjal fajir = )، ( عمى البصر والبصيرة buta mata dan buta hati = )،                      ( مخذول ditinggalkan = )، ( تاريخه أسود sejarahnya kelam =)،

( شاق للدعوة السلفية pemecah belah dakwah = )، ( فيه هواء padanya ada hawa nafsu = )،    ( إنسان فارغ manusia tak berguna = )، ( بلا بصيرة tidak memiliki bashirah/ilmu =)،               ( مسيء orang yang berbuat jelek = )، ( صاحب فساد pembawa kerusakan =

‘Abdullah bin Rubayyi’ juga mengungkap bahwa Al-Hajuri telah menelpon beberapa pihak -di antaranya Asy-Syaikh Al-Bura’i, Asy-Syaikh Ash-Shaumali, dan Ahmad bin ‘Utsman- untuk memerintahkan mereka agar jangan mau menerima kehadiran Asy-Syaikh ‘Ubaid di ma’hadnya masing-masing!!

Subhanallah betapa besar kezhaliman Al-Hajuri dan betapa ia telah benar-benar menghinakan dan menjatuhkan kehormatan dan kemuliaan seorang ‘ulama besar, yaitu Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri.

Merupakan hak Asy-Syaikh ‘Ubaid atas kita -beliau sebagai seorang ‘ulama ahlus sunnah- adalah pembelaan kita terhadap beliau. Merupakan salah satu prinsip penting dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mencintai, menghargai, dan menghormati para ‘ulama Sunnah, serta membela mereka dari penghinaan musuh-musuhnya.

Maka pada juz-3 ketiga seri kritik ilmiahnya ini, ‘Abdullah bin Rubayyi’ mengkhususkannya sebagai pembelaan terhadap harga diri Asy-Syaikh An-Nabil Al-Jalil Al-‘Allamah Al-Faqih Al-Mufassir ‘Ubaid bin ‘Abdillah Al-Jabiri hafizhahullah, sekaligus menjelaskan tentang sekilas biografi dan perjalanan hidup beliau. Inilah yang diperintahkan oleh agama kita. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

لَيْسَ مِنّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Bukan termasuk golonganku orang-orang yang tidak memuliakan orang-orang tua kita, dan tidak menyayangi anak-anak kecil/muda kita, dan tidak mengetahui hak orang ‘alim kita. [HR. Ahmad]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang sikap seorang muslim yang semestinya terhadap para ‘ulama, beliau berkata :

“Pertama, mencintai mereka. Karena kalau engkau tidak mencintai seseorang maka engkau tidak akan bertauladan dengannya

Kedua, membantu dan menolong mereka dalam menjelaskan al-haq. Yaitu dengan cara engkau menyebarkan kitab-kitab mereka dengan berbagai sarana yang bermacam-macam, yang sarana tersebut berbeda pada setiap tempat dan waktu.

Ketiga, membela kehormatan mereka. Dengan makna engkau tidak membiarkan seorangpun  mengghibahi mereka dan mencela kehormatan serta harga diri mereka. … “

Kemudian yang menarik juga dari juz ke-3 ini, pada bagian akhirnya penulis menyebutkan biografi singkat Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri. Mulai dari nama dan nasab beliau, kelahiran, perjalanan menuntut ilmu : awal belajarnya, tempat-tempat belajarnya, para masyaikh (guru) beliau -di antaranya adalah Al-Muhaddits Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad, Al-‘Allamah Asy-Syaikh Hammad Al-Anshari, di samping guru besar beliau adalah Asy-Syaikh Bin Baz dan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin – .

Kemudian disebutkan juga karya tulis ilmiah beliau, karir ilmiahnya, dan tak ketinggalan juga para ‘ulama yang memuji beliau. Kemudian secara khusus disebutkan pujian Asy-Syaikh Rabi’ terhadap beliau hafizhahullah.

Kemudian dibanding dengan biografi Al-Hajuri yang ternyata banyak diliputi ketidakjelasan. Kapan awal belajar, siapa saja para masyaikhnya, di samping berbagai karya tulisnya ternyata banyak menuai cela dan kritik.

Risalah tersebut ditutup dengan penjelasan tentang bagaimana dengan tazkiyyah para ‘ulama terhadap Al-Hajuri? Yang tentu saja tazkiyyah tersebut datang dari manusia yang tidak tahu tentang perkara yang ghaib. Termasuk tidak tahu jika di kemudian hari ternyata Al-Hajuri banyak melakukan kesalahan dan penyimpangan bahkan penghinaan terhadap para ‘ulama sunnah.

NB : Sebelumnya penulis telah meminta maaf kepada para pembaca sekalian, jika pada juz ke-3 kali mendapati beberapa kata yang tajam dan pedas, berbeda dengan dua juz sebelumnya. Hal itu dilakukan karena kondisi mengharuskan demikian.