Silsilah Nasehat Al-Wushabi (2) : NASEHAT MALAM TASU’A

Oleh / Saf 17 1430 / Nasehat

NASEHAT MALAM TASU’A

Muhâdharah berjudul : نصيحة ليلة تاسوعاء

pdf_icon Nasht Malam Tasu’a malam Kamis 8 01 1429

g

wmp-icon Nasht Malam Tasu’a malam Kamis 8 01 14292

b

Beliau sampaikan bertepatan pada Malam Tâsû’â bulan Muharram 1429 H. Dengan penuh kearifan, beliau menasehati Ahlus Sunnah dengan firman Allah dalam surat Al-Ahzâb 57-58, tentang haramnya mengganggu kaum muslimin.

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57) وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا ( 58 ) [الأحزاب/57، 58]

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti kaum mukminin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” [Al-Ahzab : 57-58]

Beliau menerangkan ayat tersebut dengan membacakan Tafsir Ibni Katsir.

Perbuatan tersebut termasuk dosa besar.

Kemudian beliau mengingatkan ahlus sunnah dan para thalabatul ‘ilmi untuk menjauhi ghîbah, namîmah, mencela dan mencaci, serta melecehkan. Juga pentingnya sikap ar-rifq, menjaga lisan, … serta berbagai nasehat berharga lainnya.

Beliau mengingatkan bagaimana kondisi Dammâj dulu semasa hidupnya Asy-Syaikh Al-Ab Al-Hanûn Muqbil bin Hâdi Al-Wâdi’i v. Sungguh Dammâj waktu itu sangat dipenuhi dengan kasih sayang, kedekatan, keakraban, ta’âwun, semangat belajar. Tidak ada kebencian, permusuhan, dengki, dan sejenisnya.

كيف كانت دماج الله أكبر في حياة الشيخ – رحمة الله عليه –  كانت دماج بينهم الألفة والمحبة والمودة طلبة العلم كانوا على قلب رجل واحد عند أب حنون وعند أب حنون رفيق بطلابه رحيم شفيق عليهم – رحمة الله عليه – فكان بينهم التآلف والتوادد والتعاون على الخير وعندهم الصبر والرغبة في طلب العلم، المهم كما كنا نقول حتى في بيوتهم كانت كبيوت الصحابة رضي الله عنهم، البيوت والأخلاق ما شاء الله وطلب العلم فهم على طريقة السلف، ما كان بينهم الشحناء والأحقاد ولا كان الشيخ يزرع بينهم هذه الأحقاد أبدا إنما كان يزرع بينهم الألفة والمحبة والمودة – جزاه الله خير ورحمة الله عليه – وصارت دماج محبوبة في قلوب الصالحين وفي قلوب المؤمنين في أماكن كثيرة يحبون ومن أتى إليهم أحبهم حدا، ….

“Bagaimana kondisi Dammâj dulu -Allahu Akbar- pada masa hidup Asy-Syaikh Muqbil – rahmatullah ‘alaihi– dulu Dammaj di antara mereka (para murid) terdapat kedekatan, kecintaan, dan kasih sayang. Para penuntut ilmu dulu di atas hati orang satu, di sisi seorang ayah sangat penyayang, seorang ayah yang penyayang dan lembut terhadap murid-muridnya, kasih sayang dan sangat menginginkan kebaikan untuk mereka. Rahmatullah ‘alaihi. Maka antar mereka terdapat kedekatan, kasih sayang, kerja sama di atas kebaikan, di samping pada mereka ada kesabaran dan semangat dalam menuntut ilmu. Yang penting, sebagaimana dulu kami katakan, sampai dalam rumah-rumah mereka, dulu seperti rumah para shahabat radhiyallahu ‘anhum, kondisi rumah-rumah, akhlaq, masya’allah dan menuntut ilmu, mereka di atas thariqah salaf. Tidak ada antara mereka permusuhan, kedengkian, dan Asy-Syaikh (Muqbil) dulu tidak pernah  sama sekali menanamkkan kedengkian, namun beliau menanamkan kedekatan, kecintaan, dan kasih sayang – jazahullah khairan wa rahmatullah ‘alaihi- dan jadilah Dammaj dicintai oleh hati para shalihin dan mukminin, di banyak tempat mereka mencintainya, dan para murid yang datang darinya, maka mereka sangat mencintainya. … .”

Namun sungguh sangat menyedihkan, suasana indah di Ma’had Dammâj pada masa Asy-Syaikh Muqbil tersebut kini sudah sirna. Ghibah, namimah, “katanya dan katanya” terus bermunculan. Vonis bahwa Asy-Syaikh ‘Abdurrahman sebagai hizbi terus dipaksakan. Bahkan siapapun yang tidak sepakat -atau diam saja- juga ikut ditahdzir. Bahkan murid-murid di sana dimata-matai, untuk diawasi siapa yang masih memihak kepada Asy-Syaikh ‘Abdurrahmân. Suasana tidak baik ini diekspor juga ke Indonesia. Para murid Indonesia yang ada di Dammaj turut aktif mengirimkan malzamahmalzamah yang berisi “kata dan katanya”, tuduhan, vonis, … dst. Yang tidak jarang korbannya adalah para ‘ulama yang mulia, atau para asatidzah di Indonesia.

Di akhir nasehatnya, beliau mengingatkan salafiyyin dengan hadits Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam :

يا معشر من قد أسلم بلسانه ولم يفض الإيمان إلى قلبه لا تؤذوا المسلمين، ولا تعيرواهم، ولا تتبعوا عوراتهم، فإنه من تتبع عورة أخيه المسلم تتبع الله عورته، ومن تتبع الله عورته يفضحه ولو في جوف رحله

“Wahai segenap orang-orang yang berislam dengan ucapan lisannya namun keimanannya tidak menyentuh qalbunya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, janganlah kalian mencela mereka, dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Karena barangsiapa yang mencari-cari aib saudaranya muslim, maka pasti Allah akan terus mengikuti aibnya. Barangsiapa yang diikuti oleh Allah segala aibnya, maka pasti Allah akan membongkarnya walaupun dia (bersembunyi) di tengah rumahnya.” [HR. At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].

Namun sayang, nasehat berharga dan mulia dari seorang yang sangat arif dan bijak sekaligus ‘ulama kibâr ini, justru tidak digubris. Bahkan dengan lancang nasehat tersebut dibantah, di antaranya oleh seorang yang bernama Kamal Al-‘Adani berani menulis bantahan atas nasehat mulia tersebut. Berbagai ayat dan hadits yang disampaikan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb sama sekali tidak menyentuh qalbu mereka. Lebih celaka lagi, bantahan tersebut diekspor ke Indonesia dengan diterjemahkan oleh Abu Abdirrahman Irham Al-Maidani. Lahaula wala Quwwata illa billah.