PRINSIP-PRINSIP BATIL AL-HAJURI

Oleh / Jm1 25 1430 / Menjawab Yahya Al-Hajuri

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسوله الامين وعلى آله وصحبه الطيبين .وبعد :

Tidak diragukan bahwa cara yang ditempuh oleh Al-Hajuri dalam fitnah ini justru membongkar banyak perkara yang ada padanya, padahal sebelumnya tersembunyi/tidak tampak pada banyak orang. Di antara perkara tersebut adalah pengagungan terhadap dirinya, sampai-sampai menempatkan dirinya pada kedudukan yang aneh dalam Dakwah Salafiyyah. Dan dia pun berjalan di atasnya, menjadikannya seakan-akan sebagai prinsip. Di antara prinsip-prinsip tersebut adalah :

Bahwa dirinya senantiasa berada di atas al-haq dalam semua perkara (!!)

Di atas prinsip batil ini, maka siapapun harus mencocokinya dan tidak boleh menyelisihinya!! Barangsiapa yang menyelisihi, berarti telah menyelisihi al-haq (kebenaran) (!!) layak mendapat hukuman (!!) Oleh karena itu Al-Hajuri berani mengatakan :

لا يظن ظان أني سأسكت عمن خالفني هذه كلمة تدوي! والله يا من خالفني لادقدقه في كل درس كبر او صغر وربي !

“Jangan ada yang mengira bahwa aku akan diam terhadap siapapun yang menyilisihi aku! Demi Allah, wahai siapapun yang menyilisihi aku, pasti akan aku buat dia tidak tenang dalam setiap pelajaran, baik dia kecil ataupun besar, demi Rabb-ku.” (dari kaset as`ilah ahlis sunnah bil Baidha`, 25 Shafar 1430 H)

Sungguh kasihan, seorang salafy yang menyelisihi Al-Hajuri dan tidak mau mentaatinya, maka dia akan dibuat tidak tenang oleh Al-Hajuri pada setiap pelajaran, baik dia besar atau pun kecil, seorang syaikh ataupun seorang thalib, dan fakta membuktikan hal tersebut. itu semua disebabkan karena prinsip yang batil di atas.

Al-Hajuri juga telah mengatakan dalam menegaskan prinsipnya tersebut :

أنا على الحق يا أخي ورافع رأسي السماء، أنا رافع رأسي في هذه القضية وفي غيرها، أنا وإخواني على الحق

“Saya berada di atas al-haq ya akhi, dan saya mengangkat kepalaku ke langit!! Saya mengangkat kepalaku dalam perkara ini (vonis Asy-Syaikh ‘Abdurrahmân sebagai hizbi) dan perkara lainnya!! Saya dan saudara-saudaraku berada di atas al-haq.” [ dinukil dari kaset as`ilah ash-hab Lahj 27 Syawwal 1428 H]

Al-Hajuri juga berkata :

والله نشعر بعزة الحق والسنة ونشعر أن من خالف الذي رأيناه في هذه المسألة أو غيرها من المسائل المتقدمة في أهل الأهواء أن مرده إلى ان يتوب أو يذوب كائنا من كان؛ لأن الحق أكبر يا أخي من فلان وعلان، به قامت السموات والارض

“Demi Allah, kami merasakan kemuliaan Al-haq dan As-Sunnah. Kami merasakan bahwa barangsiapa menyelisihi pendapat yang kami pilih dalam permasalahan ini (vonis hizbi terhadap Asy-Syaikh ‘Abdurrahman) atau lainnya dari masalah-masalah yang lalu dalam (menyikapi) ahlul ahwa, bahwa akan berujung (pada dua kemungkinan) : dia bertaubat atau atau dia merana, siapa pun dia. Karena kebenaran itu ya akhi lebih besar besar daripada si fulan atau allan. Denganya (kebenaran tersebut) tegaklah langit dan bumi.” (dari kaset as`ilah ahlis sunnah bi adh-dhali’ 27 Jumadats Tsani 1429 H).

Jadi Al-Hajuri membagi pihak yang menyelisihi keputusan-keputusannya pada dua kelompok :

–          bisa jadi dia bertaubat dari dosa penyelisihan terhadap Al-haq (baca : Al-Hajuri).

–          atau bisa jadi dia akan menyesal, sebagai bentuk hukuman atasnya akibat penyelisihannya terhadap al-haq yang terwujudkan pada keputusan-keputusan Al-Hajuri.

Al-Hajuri juga mengatakan :

ومن له ملزمة أو له شريط أو ما إلى ذلك يرى أنه يقربه إلى الله ينشره ولا سيما وأنا أطلع عليه بما أرى أنه يصلح لنشره فيما يتعلق بهذه القضية أو بغيرها الرد على سائر الذين يخالفون هذا المنهج الخير أو ما إلى ذلك ينشره ومن قال إن هذا فسقُ فقوله فسقٌ لأنه يتصدى للحق

“Barangsiapa yang memiliki malzamah atau kaset atau semisalnya, yang ia pandang bahwa itu bisa mendekatkan dirinya kepada Allah, maka silakan disebarkan. Apalagi jika aku mentelaahnya dengan aku memandangnya layak untuk disebarkan, baik yang terkait dengan permasalahan ini atau yang lainnya. Bantahan terhadap segenap orang-orang yang menyelisihi manhaj yang baik ini atau yang semisalnya. Silakan disebarkan. Barangisapa yang mengatakan bahwa perbuatan itu merupakan kefasikan, maka ucapan dialah itulah yang fasiq, karena dia telah menentang al-haq.” (dari kaset Nashihatul Ahbab , 7 Muharram 1429 H)

Barangsiapa yang demikian kondisinya, maka tidak lain dia hanyalah mengucapkan al-haq, yaitu keputusan al-Hajuri.

Maka Al-Hajuri mengatakan :

والله ما ظلمناهم انما نقول الحق!ان لم تكن هذه حزبية فليست الأولى بحزبية

“Demi Allah, kami tidak menzhalimi mereka. Kami hanya mengucapkan al-haq. Kalau hal tersebut bukan hizbiyyah, maka tidak ada lagi yang lebih pantas dinyatakan sebagai hizbiyyah.” (dari kaset At-Ta`kid 8 Dzulqa’dah 1428 H)

Kemudian Al-Hajuri menyebutkan contoh akibat orang yang menyelisihi dirinya, eh ma’af, yang menyelisihi al-haq. Al-Hajuri berkata :

ما سلم من عبيد الجابري شعبة ذهب يخبطه يتكلم عليه ويتنقصه على حساب من ؟ على حساب ذيك الفارغ! يا اخوان لكم عبرة بالذين يتصدون للحق يخذلون يخذلون فاعتبرو يا أولي الأبصار

“Syu’bah pun tidak selamat dari (lisan) ‘Ubaid Al-Jabiri. Dia telah menghinakannya, mencelanya, dan melecehkannya menurut penilaian siapa? Menurut penilaian orang tak berguna itu! Ya ikhwan, bagi kalian terdapat pelajaran tentang (nasib) orang-orang yang menentang al-haq, mereka akan tersia-siakan, mereka akan tersia-siakan. Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang memiliki pandangan (yang jernih).” (dari kaset as`ilah ahlis sunnah bil Baidha`, 25 Shafar 1430 H)

Pada kaset yang sama pula, Al-Hajuri juga berkata tentang Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab :

بل هو نفسه حالته مزرية… بأي سبب هو؟ الشيخ محمد كان معززا مكرما مضادة الحق لكم عبرة يا أهل السنة مضادة الحق ومضادة السنة والدفاع عن الباطل

“Bagi dia sendiri kondisinya terhinakan … dengan sebab apa itu? Asy-Syaikh Muhammad yang dulu orang yang mulia dan dihormati, (itu dengan sebab) menentang al-haq. Bagi kalian ada pelajaran wahai Ahlus Sunnah. Penentangan terhadap al-haq, penentangan terhadap sunnah, dan pembelaan terhadap kebatilan.”

Sungguh sangat mengherankan. Dengan sebab menentang al-haq (baca : menentang al-hajuri), Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab menjadi terhina.

Maka konsekuensi dari prinsip batil ini, bahwa segala yang dilakukan oleh Al-Hajuri adalah diridhai oleh Allah. Dan memang itulah yang diyakini oleh Al-Hajuri. Setelah memperingatkan para masyaikh untuk jangan turut campur dalam fitnah ini, Al-Hajuri berkata  :

فإن هذه نحن نعتبرها شغله لهم وبما لا طائل تحتها عندنا ؛ لأننا قد بينا شيئاً يرضي الله ـ سبحانه وتعالى

“Karena ini, kami menganggapnya suatu yang menyibukkan bagi mereka, dengan sesuatu yang tidak ada kemampuan. Karena kami telah menjelaskan sesuatu yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha.” (dari kaset Nashihatul Ahbab , 7 Muharram 1429 H)

Maka Al-Hajuri telah menetapkan untuk dirinya Al-Iradah Asy-Syari’iyyah (kehendak syar’i) yaitu yang bermakna keridhaan dan kecintaan.

Al-Hajuri juga mengatakan :

وأنا أنصح كل واحد أن لا يفضح نفسه بالتصدي لدماج ولنا، والله يفضح نفسه، وسيصير تاريخا أسود عليه إلى أن يموت !!!

“Saya menasehati semua pihak untuk tidak membongkar aibnya sendiri dengan sebab mencoba menentang Dammaj dan (mencoba menentang) kami, demi Allah (dengan itu) dia akan membongkar aibnya sendiri, dan akan menjadi sejarah kelam baginya hingga dia mati.”

[dari kasetnya yang berjudul Nashihatul Ahbab … ]

Saya tidak mengira bahwa kita masih perlu untuk menyebutkan dalil-dalil tentang kebatilan prinsip ini. Karena kebatilan prinsip diketahui oleh orang awam sekali pun, apalagi orang yang lebih dari mereka. Tidak ada kenyataannya bahwa ada orang setiap apa yang ia tetapkan dalam setiap peristiwa selalu benar, kecuali para nabi. Orang yang tingkatannya di bawah para nabi ucapannya bisa diterima atau ditolak, bisa juga ditinggalkan, karena ucapannya bisa tercampuri kesalahan dan kelalaian, lebih-lebih orang-orang yang hidup pada akhir zaman.