Silsilah Nasehat Al-Wushabi (6) : PERAN ‘ULAMA DALAM MEMADAMKAN FITNAH

Oleh / Rb1 6 1430 / Nasehat

Dalam nasehatnya kali ini, Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab menekankan tentang kedudukan dan peran penting para ‘ulama Ahlus Sunnah dalam memadamkan fitnah. Di samping beliau juga menekankan pentingnya merujuk kepada para ‘ulama, pentingnya ukhuwwah.

Bisa didengar langsung di sini

Dalam kesempatan itu pula, beliau membantah pihak-pihak yang tidak mau mendengar atau tidak mau menggubris nasehat para ‘ulama. Beliau menegur pihak-pihak yang merasa dirinya lebih tahu dan lebih paham tentang fitnah di banding para ‘ulama. Beliau mengatakan :

إذا لم يُسمع لنصائح العلماء فنسمع نصائح من؟ إذا نصح الشيخ ربيع، ونصح الشيخ عبيد الجابري، ونصح فلان، ونصح أبو إبراهم، ونرد هذا ونرد هذا، شابهنا المبتدعة وشابهنا أبا الفتن المصري، لا يجب أن نترفع عن هذا. وإذا كنت تعتقل بالنصيحة تطالب : ما بالك بنصيحة عالم، ثم ما بالك بنصائح علماء من أماكن شتى؟ اسكتوا اهدؤوا، اسكتوا اهدؤوا، فتقول : لا، نحن أعلم، يعنى يلزم أن العلماء ما يفهمون؟ لما تقول نحن أعلم شابهت المبتدعة، فإذا نُصحوا قالوا بأن فلاناً ما يفهم أو ما يعرف، أو ردوا نصيحة العلماء بأي أسلوب. يا أخي في الوقت هذا من كان في دماج أو في عدن أو في مكة أو في المدينة أو في البيضاء أو في بعدان أصبح الآن المجتمع كقرية واحدة، أمور الأخبار طارت شرقاً وغرباً، وهواتف حتى عند بايعي البصل. المسألة ما صارت صعبة، هذا له أصحاب وهذا له أصحاب، وهذا يأتي بالأخبار وهذا يأتي بالأخبار، فهذه الشبهة ما تنطلي على العلماء أن تقول نحن أعلم، كيف العلماء ما يفهمون؟ يعني الأخبار تصل إليهم إلى حد التواتر، تأتيهم لا من شخص ولا من اثنين ولا من ثلاثة ولا من أربعة ولا من خمسة ولا من ستة وإنما إلى حد التواتر، فصار كأنه في موضع الفتنة معايش لها، فما أصبحت غريبة عليه لا من قريب ولا من بعيد، بس هو كيف ترد النصائح يقال نحن أخبر، هذه ما هي حجة.

“Jika kita tidak mau mendengar nasehat ulama maka nasehat siapa yang akan kita dengar? Jika Asy-Syaikh Rabi’ sudah menasehati, Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri sudah menasehati, fulan sudah menasehati, Abu Ibrahim (Yakni beliau sendiri) sudah menasehati, lalu nasehat yang ini kita bantah dan nasehat yang itu kita bantah. Jika demikian berarti kita menyerupai mubtadi’ah, kita menyerupai pentolan fitnah Al-Mishri [1]). Tidak boleh, wajib kita untuk menjadi lebih tinggi dari sifat (jelek) tersebut.

Apabila engkau memahami nasehat, bagaimana menurutmu dengan nasehat seorang ‘alim? Lalu bagaimana pula dengan nasehat-nasehat para ‘ulama dari tempat yang berbeda-beda? (Mereka menasehatkan), “diamlah dan tenanglah kalian, diam dan tenanglah kalian”, namun engkau berani mengatakan, “Tidak, kami lebih tahu.” Yakni berarti para ‘ulama tidak memahami permasalahan?

Tatkala engkau mengatakan bahwa kami lebih tahu masalah ini (daripada ulama) artinya engkau menyerupai mubtadi’ah. Jika mereka dinasehati, mereka mengatakan bahwa fulan tidak mengerti masalah atau tidak tahu masalah, atau mereka membantah nasehat para ulama dengan cara apa saja (yang mampu mereka lakukan).

Wahai saudaraku! Pada masa sekarang ini barang siapa berada di Dammaj atau di ‘Aden atau di Makkah atau di Madinah  atau di Baidha’ atau di Ba’dan, seluruh masyarakat sekarang ini seakan hidup bersama dalam satu daerah. Informasi tersebar dengan cepat ke Timur dan ke Barat dan lewat telpon, bahkan di kalangan para penjual bawang merah sekalipun. Permasalahan fitnah yang terjadi bukan sesuatu yang sulit untuk diikuti. Pihak yang ini punya teman dan pihak lainnya punya teman. Pihak yang ini membawa informasi dan pihak yang lain membawa informasi. Syubhat ini, yaitu bahwa kami lebih mengetahui permasalahan (daripada ulama) tidak akan mengelabui ulama. Bagaimana mungkin para ulama tidak mengerti permasalahan? Maksudnya bahwa informasi sampai kepada para ulama dari berbagai jalan sampai pada tingkat mutawatir. Informasi datang bukan hanya dari satu orang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang atau hanya enam orang saja. Namun informasi tersebut datang dari banyak orang sampai pada tingkat mutawatir [2]). Sehingga ‘alim tersebut seakan-akan berada di tempat terjadinya fitnah dan hidup bersama fitnah itu. Jadi fitnah bukan merupakan seuatu yang asing baginya, tidak dari jauh tidak pula dari dekat. Maka bagaimana nasehat-nasehat ulama bisa dibantah dengan mengatakan, “Kami lebih tahu permasalahan.” Ini bukan hujjah.”


[1] Yaitu Abul Hasan Musthafa bin Sulaiman Al-Mishri. pentolan fitnah hizbiyyah ikhwanul mislimin di Yaman yang  telah disehati sekian lamanya oleh para ulama untuk ruju’ dari kesalahan-kesalahannya, namun tidak mau mendengar nasehat dan tidak mau bertaubat. Sehingga akhirnya ditahdzir oleh para ulama,  Asy-Syaikh Rabi’ bersama ulama lainnya.

[2] Jumlah yang sangat banyak sehingga mustahil terjadi kedustaan atau kekeliruan.