Silsilah Nasehat Al-Wushabi (5) : SAMBUTAN ATAS NASEHAT ASY-SYAIKH RABI’

Oleh / Rb1 6 1430 / Nasehat

Sebagaimana telah kita tahu, pada 17 Rabi’uts Tsani 1429 H Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah telah menyampaikan nasehatnya kepada segenap ahlus sunnah di Yaman terkait dengan fitnah yang terjadi. Dalam nasehat tersebut beliau menegaskan bahwa perselisihan yang terjadi bukanlah perselisihan manhaj ataupun aqidah, namun hanyalah kepentingan-kepentingan pribadi. seraya beliau meminta kepada semua pihak untuk mengakhiri dan menyelesaikan fitnah yang terjadi. Selengkapnya bisa dibaca pada :

Nasehat tersebut benar-benar mendapat sambutan hangat dari ahlus sunnah di Yaman, termasuk para masyaikh kibar di sana. Termasuk di antaranya Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Walid Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, dalam ceramahnya yang beliau sampaikan pada, malam Sabtu tanggal 20 Rabî’uts Tsâni 1429 H.

Sambutan beliau itu berjudul :

Al-îdhâhul Badî’ li Nashîhati Asy-Syaikh Rabî’

(Penjelasan yang sangat Indah terhadap Nasehat Asy-Syaikh Rabî’ )

Beliau mengatakan bahwa nasehat ini telah beliau sampaikan di kediaman beliau di Makkah Al-Mukarramah semoga Allah terus menambah kemuliaan dan keagungan bagi negeri tersebut- ba’dal Maghrib hari Rabu tanggal 17 bulan ini (Rabî’uts Tsâni) dan tahun ini (1429 H). Secara kebetulan, bahwa secara bersamaan beliau pun telah menyampaikan muhâdharah pada hari dan tanggal yang sama di salah satu desa di kabupaten Yarîm. Ketika itu beliau tidak tahu akan adanya nasehat Asy-Syaikh Rabî’ ini demikian juga Asy-Syaikh Rabî’ pun juga tidak tahu akan adanya muhâdharah yang beliau sampaikan pada hari tersebut. Muhâdharah tersebut berjudul Al-îdhâh wal Bayân fî Mauqifil Muslim min Fitanil Azmân, yang membahas tema yang sama. Nasehat Asy-Syaikh Rabî tersebut –jazâhullâh khairan– bermanfaat, (muhâdharah) beliau pun juga bermanfaat. Semoga Allah menerima amal tersebut. Semoga Allah menenjadikan amal-amal kita, amal-amal Asy-Syaikh Muqbil, amal-amal Asy-Syaikh Rabî’, dan segenap ‘ulama ahlus sunnah termasuk dalam timbangan kebaikan kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar do’a.

Pada Muqaddimah ceramahnya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab mengatakan :

“Namun sebelum itu perlu diketahui bahwa nasehat-nasehat para ‘ulama yang berpegang kepada Al-Kitab dan As-Sunnah adalah nasehat yang penuh dengan kebaikan, barakah, ilmu, dan faedah, serta arahan-arahan. Allah ”Azza wa Jalla telah menjadikan para ‘ulama -yang berilmu tentang Al-Kitab dan As-Sunnah- sebagai rahmat untuk hamba-hamba-Nya. Para ‘ulama itu sangat sayang dan mengasihi mereka, memperingatkan mereka dari berbagai kejelekan dan mendorong mereka kepada berbagai kebaikan. Para ‘ulama itu adalah bintang-bintang di bumi. Jika bintang-bintang tersebut adalah bintang-bintang langit, maka para ‘ulama adalah bintang-bintang bumi. Jika bintang-bintang tersebut sebagai penerang/cahaya di langit, maka para ‘ulama adalah penerang/cahaya di bumi. Jika bintang-bintang tersebut sebagai perhiasan langit, maka para ‘ulama adalah perhiasan bumi.

Umat akan terus berada dalam kebaikan selama di tengah-tengah mereka ada para ‘ulama yang senantiasa mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang memperhatikan kondisi umat. Umat akan terus berada dalam kebaikan selama mereka senantiasa menghargai dan menghormati para ‘ulama serta senantiasa mengikuti nasehat-nasehat para ‘ulama. Karena nasehat merupakan sesuatu yang sangat berharga dan mahal nilainya. Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi para ‘ulama untuk senantiasa mencurahkan berbagai nasehat kepada umat pada setiap saat. Karena tidak ada kehidupan bagi umat ini kecuali dengan ilmu, agama, dan dengan keberadaan para ‘ulama mereka. Dengan nasehat para ‘ulama tampaklah al-haq dan terbantahlah segala kebatilan. Maka, semoga Allah membalas Asy-Syaikh Rabî’ dengan kebaikan dan juga Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jâbiri, semoga Allah membalasa para ‘ulama ahlus sunnah dengan kebaikan pada setiap tempat dan zaman. Mereka telah memperhatikan dengan serius mashlâhah umat dan mengarahkannya kepada kebaikan. Kita memohon taufiq kepada Allah untuk mereka (para ‘ulama) dan segenap kaum muslimin.”

Kemudian Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Al-Wushâbi membacakan transkrip nasehat Asy-Syaikh Rabî’, dengan penuh penghormatan dan penghargaan serta kesiapan untuk menerima nasehat tersebut] [1])

Selesai membaca nasehat tersebut, Asy-Syaikh Al-Wushabi hafizhahullah mengatakan :

“Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberikan manfaat dengan nasehat ini. Semoga fitnah ini, yang sebelumnya telah didahului oleh fitnah Abul Hasan, bisa menjadi ‘ibrah (pelajaran) insyâ’allâh bagi semua pihak. Masing-masing bisa mengambil pelajaran. Namun pelajaran ini, banyak pihak yang tidak bisa memahaminya, sehingga setiap datang fitnah mereka pun larut di dalamnya. Padahal sikap para thullâb tidaklah seperti sikapnya orang awam -sebagaimana telah aku terangkan dalam muhâdharah– . Sikap para thullâb semestinya tenang dan santun serta menyerahkan penyelesaian fitnah tersebut kepada para ‘ulama. Adapun para ‘ulama wajib atas mereka untuk senantiasa bertaqwa dan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada diri mereka, ucapan mereka, dalam mendidik murid-murid mereka, dan dalam membimbing umat, demikian juga para ‘ulama hendaknya bertaqwa kepada Allah dalam menjaga dakwah yang penuh barakah ini, yaitu dakwah yang mengajak kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam.

Kalian telah tahu dari penjelasan-penjelasan Asy-Syaikh Muqbil v, demikian juga penjelasan-penjelasan Asy-Syaikh Rabî’ dan para ‘ulama ahlus sunnah lainnya, bahwa dakwah ini memiliki banyak musuh. Banyak orang-orang yang dengki dan berupaya membuat makar terhadapnya, mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan Al-Haq (kebenaran) ………. . Namun Allah senantiasa mengawasi segala gerak-gerik mereka.

Insyâ’allâh kapan pun datangnya fitnah, maka sikap kalian -wahai para penuntut ilmu- adalah satu, yaitu tenang, santun, dan tidak turut campur di dalamnya, serta senantiasa menunggu penjelasan para ‘ulama. Alhamdulillâh dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah senantiasa dipimpin oleh para ‘ulama rabbaniyyûn yang senantiasa ikhlash -menurut yang kita ketahui, dan Allah yang memperhitungkan amal mereka- …… Dakwah ini memiliki para ‘ulama, yang senantiasa mengajak umat manusia untuk berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam .

Sebelumnya aku mengira bahwa manusia bisa mengambil pelajaran dari fitnah Abul Hasan ….. . Sebelumnya aku mengira bahwa kalau terjadi lagi fitnah setelah itu maka mereka tidaklah menghadapinya kecuali dengan tenang, santun, dan tidak ta’ash-shub. Namun ternyata allâhul musta’ân. Mungkin sebagian mereka telah lupa …. , mungkin mereka telah lupa ………. Kini fitnah itu datang kembali dengan warna baru dan wajah baru pula. Maka lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu berjalan bersama para ‘ulama dalam menyikapi fitnah Abul Hasan. Betapa indahnya sikap mereka. Alhamdulillâh, sikap para ‘ulama dalam fitnah Abul Hasan sangat membuat dada lapang, sangat baik, bermanfaat, dan memberikan bimbingan. Terbukti, Allah menjadikan al-haq, kebenaran, serta kejernihan akal ada pada lisan para ‘ulama. Maka tersingkirlah Abul Hasan dan tersingkaplah kondisi orang-orang yang jelek. Kebenaran berpihak pada mereka yang berjalan bersama para ‘ulama dalam menyikapi fitnah tersebut, walhamdulillâh. Tidak ada bagi mereka kecuali kebaikan.

Terjaga lisan mereka, terjaga waktu, hari-hari, dan bulan-bulan mereka, hingga sirnalah fitnah tersebut dengan kebenaran para ‘ulama.”

Beliau juga mengatakan sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh Rabi’ dan para ‘ulama lainnya, bahwa sikap para ‘ulama sepakat bahwa semuanya adalah Ahlus Sunnah, baik Al-Hajûri maupun Al-‘Adani, demikian juga Asy-Syaikh Sâlim Bâ Muhriz dan Asy-Syaikh ‘Abdullâh Al-‘Adani, semuanya adalah Ahlus Sunnah. Maka apa yang terjadi berupa berbagai berita yang bersumber dari “katanya dan katanya”, dan celaan-celaan yang terjadi itu semua tidak lain adalah kepentingan-kepentingan pribadi, bukan celaan terhadap aqidah, manhaj, atau lainnya.

Sehingga tidak ada di antara para ‘ulama kibar di Yaman atau pun di luar Yaman yang mengatakan bahwa Asy-Syaikh ‘Abdurrahman adalah hizbi. Tidak ada satu pun dari para ‘ulama kibar tersebut yang sepakat dengan tahdzir dan vonis serta celaan Al-Hajuri terhadap Asy-Syaikh ‘Abdurrahman. Demikian juga para ‘ulama tidak sepakat dengan berbagai celaan dan tahdzir Al-Hajuri terhadap Asy-Syaikh Salim Ba Muhriz dan Asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i Al-‘Adani.


[1] Demikianlah, para masyâikh dan segenap ahlus sunnah mendengar nasehat Asy-Syaikh Rabî’ penuh kesiapan untuk menerima dan merealisasikan nasehat tersebut, layaknya seorang anak yang mendengar nasehat ayahnya. Berbeda halnya dengan Al-Hajûri dan murid-muridnya di Dammâj. Nasehat mulia dari seorang ‘ulama kibâr ini dibantah.