SYA’BAN, BULAN YANG MANUSIA LALAI DARINYA

Oleh / Shb 3 1438 / Fiqih

Sya’ban, bulan yang manusia lalai darinya

www.manhajul-anbiya.net.

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَبُو الْغُصْنِ شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Telah mengabarkan kepada kami ‘Amr bin ‘Ali dari ‘Abdurrahman dia berkata; telah menceritakan kepada kami Tsabit bin Qais Abu Al Ghushn – seorang syaikh dari penduduk Madinah – dia berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Sa’id Al Maqburi dia berkata; telah menceritakan kepadaku Usamah bin Zaid, dia berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa dari bulan Sya’ban?” Beliau bersabda: « Itulah bulan yang MANUSIA LALAI DARINYA; -ia bulan yang berada- di antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan yang padanya amal perbuatan diangkat kepada Rabb semesta alam. Maka aku senang amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa. »

Al-Imam al-Albani _rahimahullaah_ berkata dalam *Irwa’ul Ghalil* (4/103), “Ini adalah sanad yang hasan, seluruh perawinya tsiqah, termasuk perawi dari asy-syaikhain (al-Bukhari dan Muslim) kecuali Tsabit bin Qais. An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia tidak mengapa.” Ahmad berkata, “Tsiqah (terpercaya).” Abu Dawud berkata, “Haditsnya tidak mengapa.” Al-Mundziri berkata dalam kitab *Mukhtashar as-Sunan* (3/320), “Itu adalah hadits hasan.”

Al-Imam Ibnu Rajab berkata dalam *Latha’if al-Ma’arif* (hal. 130), “Telah jelas dengan apa yang telah kami sebutkan, sebab puasa Nabi _shallallaahu ‘alaihi wa sallam_ pada bulan Sya’ban berbeda dengan bulan yang lain. Di dalamnya terdapat makna-makna yang lain. Telah disebutkan dua makna di antaranya oleh Nabi _shallallaahu ‘alaihi wa sallam_ dalam hadits Usamah:

1. Sya’ban adalah bulan yang “manusia lalai darinya; -ia bulan yang berada- di antara bulan Rajab dan Ramadhan.” Sabda Rasulullah _shallallaahu ‘alaihi wa sallam_ ini mengisyaratkan bahwa tatkala Sya’ban diapit oleh dua bulan yang agung; bulan haram (Rajab) dan bulan puasa (Ramadhan), maka manusia tersibukkan dengan kedua bulan ini, sehingga bulan Sya’ban terlupakan. Sementara sebagian orang mengira bahwa berpuasa pada bulan Rajab itu lebih utama daripada puasa pada bulan Sya’ban, karena Rajab adalah bulan haram. Padahal tidak demikian adanya.

Al-Imam Ibnu Wahb _rahimahullah_ meriwayatkan, “Mu’awiyah bin Shalih telah menyampaikan hadits kepada kami dari Azhar bin Sa’d dari ayahnya, dari ‘Aisyah _radhiyallahu ‘anha_, ia berkata, “Pernah disebutkan kepada Rasulullah apakah manusia berpuasa di bulan Rajab?” Beliau menjawab, “Lalu di mana mereka pada bulan Sya’ban”?

2. Pada lafazh “manusia lalai darinya; -ia bulan yang berada- di antara bulan Rajab dan Ramadhan.” Ada isyarat bahwa sebagian waktu atau tempat atau pribadi yang dikenal keutamaannya, terkadang yang lainnya itu lebih utama, baik secara mutlak atau karena kekhususan padanya. Mayoritas manusia tidak mencermatinya sehingga mereka tersibukkan dengan sesuatu yang telah dikenal (masyhur), dan terlewatkan dari memperoleh keutamaan yang tidak dikenal oleh mereka.

Dinukil dari http://www.sahab.net/home/?p=1759